Home Atjeh Meurdehka 20 Tahun MoU Helsinki

20 Tahun MoU Helsinki

by admin

Setelah 20 tahun MoU

Dua puluh tahun sudah sejak terjadinya perjanjian MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005, bermakna telah satu generasi Bangsa Acheh hidup dalam cahaya redup di bawah bayang-bayang “perdamaian” yang tidak ada arti apa-apa dalam segi ukuran apapun kita ambil kira. Apakah itu dalam hal kesejahteraan rakyat? Kehidupan yang bermoral? Keamanan dalam hukum? Pendidikan yang bagus? Atau apapun itu tidak ada penyelesaian apa lagi menyelesaikan masalah masa lalu dalam hal penghilangan nyawa Bangsa Acheh.

Apakah pembagian penghasilan Acheh dibagi 70% – 30% terlaksana? Kita tidak perlu mengambil calculator untuk menilai berapa hasil yang telah keluar dari bumi Acheh, yang sangat jelas banyak sekali penipuan telah terjadi sebab pembukuan keuangan (accountant) tidak berada dalam tangan pemegang saham 70% yang seharusnya Bangsa Acheh-lah yang memegang buku tersebut sebagai pemegang saham terbanyak. Kita hanya dapat melihat dengan mata telanjang yang sangat jelas sekali dari sehari ke sehari kehidupan rakyat Acheh semakin terpuruk dalam kehidupan yang sangat miskin.

Pelaksanaan hukum-hukum di Acheh? Ini masih berlaku sama persis seperti penjajahan lama dulu masa penjajahan Belanda di Acheh masih diterapkan. Sudah berapa banyak kasus yang menimpa rakyat biasa melawan pihak yang memegang senjata yang selalunya pihak rakyat biasalah yang menjadi korban sebenarnya. Terlalu banyak kasus yang terjadi di Acheh yang tidak mampu kita sebutkan disini selama setelah terjadinya perjanjian MoU tersebut.

Empat batalyon baru di Acheh? Ini sangat aneh sekali kejadiannya. Keanehan ini terjadi sampai dapat kita sebut sebagai keajaiban yang sengaja diajaibkan. Sangat heran kita lihat dan sangat tidak terfikirkan bagaimana hal ini bisa terjadi. Sangat malu saya sebutkan butir MoU tentang hal ini sebab sangat tidak beradab. Ada bantahan?

Terlalu banyak hal-hal perjanjian bersama itu telah terlanggar dengan sendirinya atau sengaja dibuat pelanggaran dengan sebab kelemahan kita sendiri (kita? sepatutnya bukan kita, karena masih sayang terhadap mereka yang juga sebagai Bangsa Acheh, terpaksa menyebut kita).  Bukalah mata dan pelajarilah – sepatutnya belajarlah – apa saja yang telah terlaksana dari butir-butir MoU tersebut. Jangan katakan satu, dua paling banyak tiga dari butir MoU telah dilaksanakan. Ini pun dilaksanakan dengan sepenuh hati dan banyak sekali usaha-usaha untuk menggagalkannya dari pihak Jakarta.

Kami tidak mendapat undangan untuk mengingat 20 tahun MoU di Acheh. Kami mendapat bocoran siapa saja mendapat undangan tersebut dan tidak berkecil hati dalam hal ini. Hanya saja dari beberapa perserta dari pertemuan kali ini hampir semua adalah pelaku dalam terjadinya MoU Helsinki itu. Kita dapat rasakan dalam pertemuan kali ini akan sama seperti apa yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, minum kopi, makan roti dengan muka berseri berjabat tangan dan pamit pulang. Tidak akan ada hasil apa-apa untuk Bangsa Acheh. Apa lagi kalau kita minta pertanggung jawaban dengan apa yang telah mereka lakukan? Tidak akan ada sama sekali. Seolah-olah nyawa Bangsa Acheh yang telah terkorban selama terjadinya penuntutan kemerdekaan itu seharga secangkir kopi dan sepotong roti dalam setiap pertemuan.

Disini kita mengingatkan bahwa MoU Helsinki telah tidak ada lagi sebenarnya. Tinggal pengakuannya saja dari pihak yang terlibat dalam perjanjian ini yang bahwa perjanjian MoU telah gagal total. Atau jika hal ini masih ingin dipertahankan, kaji ulang dan laksanakan dengan sesungguhnya. Walaupun dalam perjanjian ini sangat sedikit mendapat keuntungan bagi pihak Bangsa Acheh dari apa yang telah Bangsa Acheh tuntut selama bertahun-tahun sebelum perjanjian ini dilaksanakan.

Janganlah menambah penipuan demi penipuan terhadap Bangsa Acheh untuk mempertahankan MoU ini yang hanya dirasakan kenikmatan oleh beberapa orang saja yang dapat kita hitung dengan jari tangan. Kita tidak menjelaskan secara rinci berpuluh-puluh keadaan yang telah terjadi dalam pelanggaran MoU ini sebagaimana semua orang telah mengetahui hal ini. Hanya orang-orang yang sadar dan mau sadar dengan keadaan yang sangat pahit telah, sedang dan akan terjadi di Acheh.

Lihatlah masalah pertambangan, pencaplokan pulau-pulau Acheh, kriminal bertambah banyak, moral semakin rendah, pembatasan media online yang menjurus kepada kerosakan moral tidak dibendung, dan banyak lagi yang perlu mereka pertanggung-jawabkan.

Musanna di Tiro

______________________________________________________________

20 Years after MoU

With the signing of the Memorandum of Understanding (MoU) signed between the Free Acheh Movement (GAM) and Indonesia on 15 August 2005, ending 3 decades of the dirty war in Acheh that killed almost 50,000 Achehnese innocent civilians, a period of one generation is lost. But when we rekindled during this ‘peace’ period, we have seen no significant changes to the Achehnese people in their livelihood, economically, socially, and politically. 

On the contrary, poverty has increased dramatically and the Achehnese have yet to live in prosperity and dignity.

Morally, rule of law and security, good education not to say the least of the cases of forcible disappearances and other abuses by the TNI, that have yet to be accounted for during the conflict, have never been implemented   

The division of 70/30% of wealth between Acheh and Jakarta is still on paper. This does not include the exploitation and ‘broad daylight robbery’ of our rich natural resources that have never been audited transparently because we as the largest stakeholder, are denied by Jakarta who held on to the books. What we witness today is the continuation of our people living under the line of poverty.

With regards to the rule of law, the situation is status quo – continuation of Dutch colonialism by the neo-colonial Jakarta regime in Acheh. Since MoU Helsinki, many cases of human rights violations and abuses that are unaccounted for, have yet to be resolved. Another issue is the deployment of 6 battalions to Acheh recently, which is surprisingly weird since there is peace in Acheh and without external threat.

 We have also seen many violations by the Indonesian government (and partly by our people because of our own weakness as an Achehnese). Let us learn from the mistakes that we made and try to amend. Even if we could implement 2 or 3 points of the MoU, let us carry out this wholeheartedly and full commitment, knowing that Jakarta would always try to stop us.

From the information we received, the invitees to the 20th Anniversary MoU Helsinki celebration are almost the same people, attending ceremonial sessions with participants mingling, small talk and dining before leaving with nothing beneficial for the Achehnese people, what more if we were to demand justice for the past violations? Nothing.  As if the life of the Achehnese victims of conflict, is just worth a cup of coffee

We feel that MoU has failed Acheh totally. It has not given any positive impact to the people. It is just a matter of admission from the stakeholders of this agreement. We call upon you to reconsider and review the past implementation without discarding the aspirations and demands of the Achehnese people for many years before this agreement was signed. Do not continue to deliver empty promises and misleading Achehnese by defending the MoU, which only benefitted a small group of people. Only those who are willing to introspect themselves are aware of the difficult situation, in the past, current and future of Acheh.

We have witnessed our mineral resources plundered, islands in Acheh intervened, increase in crime, moral decline, restriction of media – all these leading to uncontrollable and unaccountable destruction. 

Musanna di Tiro

You may also like

Leave a Comment