COPENHAGEN – Rakyat Aceh yang hidup di pengasingan menggelar aksi demonstrasi damai di depan gedung UN City Copenhagen (un.dk), Kamis. UN City merupakan pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang menaungi sedikitnya 10 badan PBB dengan sekitar 2.000 staf yang tersebar di berbagai wilayah Eropa.
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk seruan kepada dunia internasional agar memberikan perhatian serius terhadap kondisi Aceh saat ini yang tengah dilanda bencana alam serta krisis lingkungan yang berkepanjangan.
Dalam orasi yang disampaikan, para peserta aksi menegaskan bahwa rakyat Aceh hari ini membutuhkan kehadiran dan pengawasan dunia internasional untuk melihat secara langsung kondisi kemanusiaan yang terjadi di Aceh. Mereka menyoroti dampak bencana tidak hanya terhadap manusia, tetapi juga terhadap satwa liar dan hutan Aceh yang selama berabad-abad menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.
“Hutan, manusia, dan satwa di Aceh adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ketika hutan dihancurkan, maka kehidupan kami ikut dimusnahkan,” ujar salah satu orator dalam aksi tersebut.
Para demonstran juga berkata, bahwa hutan-hutan Aceh telah dirusak secara sistematis oleh kebijakan negara Indonesia. Mereka mengingatkan bahwa dunia internasional telah mengucurkan dana yang sangat besar kepada Indonesia dengan tujuan melindungi hutan dan keanekaragaman hayati. Namun, amanah tersebut telah dikhianati melalui praktik eksploitasi dan perusakan lingkungan yang terus berlangsung.
Di akhir aksi, rakyat Aceh di pengasingan menyampaikan pesan dan harapan kepada komunitas internasional di depan gedung UN agar tidak tinggal diam. Mereka menyerukan penyelamatan hutan Aceh, satwa liar, dan manusia Aceh–Sumatra yang dinilai sedang dihapus secara perlahan dari tanah leluhurnya melalui model pembangunan yang eksploitatif.
“Selamatkan Aceh. Selamatkan hutannya, satwanya, dan manusianya,” demikian pesan penutup yang disuarakan dalam demonstrasi tersebut.
Spanduk Rakyat Aceh Di kantor UN Copenhagen -Denmark
“This banner represents the Acehnese people’s appeal for their internationally recognized right to self-determination, as a peaceful and lawful response to ongoing humanitarian and environmental crises.”
Sumber: Informasi- GAM