Home Majalah Masyarakat Aceh Gelar Demonstrasi di Depan Kantor PBB New York

Masyarakat Aceh Gelar Demonstrasi di Depan Kantor PBB New York

by Sjukri Ibrahim

Di Amerika Serikat, masyarakat Aceh kini tergabung ke dalam Aceh Community Center. Mereka tinggal di berbagai negara bagian, terbanyak di Pennsylvania, di dua kota, Philadelphia dan Harrisburg.

New York City, USA — Masyarakat Aceh di Amerika Serikat menggelar aksi demonstrasi damai di depan kantor United Nations (UN) di New York City. Aksi ini menuntut perhatian dan keterlibatan dunia internasional terhadap krisis kemanusiaan dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Aceh.

Dalam aksi tersebut, para demonstran menyerukan bantuan internasional untuk Aceh serta menuntut pertanggungjawaban Indonesia atas kerusakan lingkungan, termasuk pemusnahan hutan, hilangnya habitat satwa liar, dan dampak serius terhadap kehidupan manusia.

Dalam orasi yang disampaikan, peserta aksi menegaskan bahwa rakyat Aceh membutuhkan kehadiran dan pengawasan dunia internasional untuk melihat langsung kondisi kemanusiaan di lapangan. Mereka menyoroti bahwa bencana yang terjadi tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga pada satwa liar dan hutan Aceh yang selama berabad-abad menjadi sumber kehidupan masyarakat.

“Hutan, manusia, dan satwa di Aceh adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Ketika hutan dihancurkan, maka kehidupan kami ikut dimusnahkan,” ujar salah satu orator.

Selain di depan kantor PBB, massa aksi juga menggelar demonstrasi di depan Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Amerika Serikat. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan masyarakat Aceh menyampaikan tuntutan langsung kepada pihak perwakilan Indonesia

.

Tiga Tuntutan Utama

Dalam pertemuan dengan perwakilan Kedutaan/PTRI Indonesia, perwakilan demonstran menyampaikan tiga tuntutan utama.

  1. Penetapan status darurat nasional, karena skala bencana banjir dan longsor di Aceh dan Sumatra Utara telah melampaui kapasitas penanganan daerah.
  2. Pembukaan akses bantuan internasional untuk menyelamatkan nyawa dan mempercepat proses pemulihan.
  3. Penghentian deforestasi dan praktik perusakan lingkungan, serta penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang menyalahgunakan lahan.

Mereka menegaskan kesiapan untuk berdialog dan bekerja sama, namun juga menyatakan tidak akan diam apabila tidak ada langkah nyata.

“Jika tidak ada perubahan kebijakan, kami akan meningkatkan advokasi damai, termasuk aksi publik yang lebih besar dan keterlibatan internasional,” tegas perwakilan masyarakat Aceh.

Aksi ini menambah sorotan internasional terhadap kondisi lingkungan dan kemanusiaan di Aceh, serta memperkuat tuntutan agar dunia internasional turut berperan dalam pengawasan dan penyelamatan wilayah tersebut.

Tim Kordinasi
Bustami Ibrahim

You may also like

Leave a Comment