SADAR DAN BANGKITLAH BANGSA-BANGSA MERDEKA

Kesenjangan sosial di “indonesia-jawa” adalah sejarah yang berulang dan akan kekal selama “indonesia” masih dipertahankan sebagai sebuah negara. Negara itu sendiri pada hakikatnya adalah sebagai negara penyambungan dari penjajahan Belanda yang berpusat di Jakarta. Sama seperti masa penjajahan Belanda dulu juga berpusat di Batavia. Maka semua kebijakan yang datang dari Jakarta adalah kebijakan penjajah kepada anak jajahan. Selama kita masih mau menuruti perintah yang berpusat di Jakarta, selama itulah kita tidak pernah akan mendapat kemakmuran dan keadilan yang sebenarnya.
Kesenjangan sosial ini tidak akan terselesaikan jika kita masih mempertahankan negara neo-colonialism ini. Tidaklah mungkin berpuluh-puluh bangsa yang berlatar belakang yang sangat berbeda ini bisa menyatu dalam wadah kesatuan negara pura-pura tersebut. Jika akan dipaksakan juga akan timbul golongan-golongan yang akan saling merebut keuntungan pribadi masing-masing. Pejabat-pejabat tidak akan berbakti kepada negara dan rakyat, sebab negara sendiri sangat rapuh tidak mungkin dipertahankan maka rakyat dipaksakan untuk menerima kehendak pejabat itu sendiri dengan menggunakan kekuatan tentera dan polisi.
Jika topeng pejabat ini terbuka dan rakyat telah melihat apa sebenarnya kelakuan para pejabat dengan secepatnya mencari kambing hitam untuk menyelamatkan diri sendiri. Kambing hitam yang talah dipersiapkan untuk keuntungan partai dan golong ini tidak akan dimunculkan dengan segera. Jika rakyat mulai meluapkan kemarahan kepada pemerintah, maka dengan secepatnya dipaparkan dimedia bahwa ini adalah kesalahan beberapa orang yang celupar mulutnya. Ini adalah sebagai lempar batu sembunyi tangan dari pemerintah itu sendiri. Dan korbannya adalah rakyat sendiri yang telah ditekan habis-habisan dan beberapa orang dari simulut celupar tersebut juga korban dari kebijakan keji ini. Sangat mudah menunjukkan si polan telah berkata hal tidak pantas dan kita buang, sebenarnya kebijakan partai itu sendiri yang salah memilih orang untuk menjadi wakil rakyat. Wakil-wakil rakyat yang mereka terima adalah orang yang sebenarnya tidak pantas menjadi wakil rakyat. Mereka adalah orang-orang yang menyisihkan diri dari rakyat sejak semula. Mereka tidak pernah berbaur dengan rakyat sejatinya, jika pernah ada pun hanya untuk masa pemilihan saja. Mereka adalah orang-orang yang terbukti sekali telah menggunakan rakyat untuk mendapat keuntungan kekayaan dan sudah pasti mereka akan mencari kekayaan juga jika terpilih.
Jika topeng tidak terbuka maka para pejabat tikus tersebut akan membuat kebijakan-kebijakan lainnya untuk kepentingan diri sendiri untuk menjadi lebih kaya. Perhatikan dengan baik-baik. Hampir semua pejabat pemerintahan yang asalnya orang berada, kekayaan mereka akan bertambah beratus kali lipat dalam waktu singkat begitu menjadi pejabat. Apakah itu petinggi polisi, hakim, tentara, kepala kantor, kepala pemerintahan dan seluruh jajaran-jajaran lainya. Dari mana kekayaan ini? Dari memeras rakyat yang sejatinya telah terperas sejak lahir.
Partai-partai politik yang berada di negara yang tidak bertanggung jawab ini juga setali tiga uang juga pemerintahnya. Negara mempertahan diri dengan kepura-puraannya, partai politik juga menjaga kepentingan partainya dengan tidak memperdulikan kemakmuran rakyat dan kewajiban kepada negara. Partai-partai politik ini lebih mementingkan partai itu sendiri ketimbang rakyat dan negara. Coba kita lihat pertanggung jawaban partai itu kepada rakyat dan negara. Begitu telah ada yang tumbalkan sebenarnya partai harus lebih bertanggung jawab dengan tindakan yang lebih cerdas. Partai harus bertanggung jawab penuh dengan membubarkan partainya karena tidak dapat memilih kader yang lebih baik atau selembut-lembutnya keluar dari koalisi pemerintahan sebab sudah tidak bisa menjadi pemerintah lagi.
SEMUA SALAH RAKYAT, ini adalah slogan yang selalu tertanam dalam otak mereka yang telah menjadi pejabat pemerintahan “indonesia”. Tanah rakyat dirampas menjadi tanah negara yang telah ditentukan dengan hukum penjajahan, sehingga mempersempit mata pencaharian rakyat, jika bersuara akan ditangkap dan disiksa. Hasil pendapatan dipersempit dan ditambah dengan pajak yang tinggi, jika bersuara akan dibungkam dengan dalih melawan hukum. Sebab hukum hanya ada ditangan mereka yang menjabat. Kesehatan rakyat bertambah buruk, obat bertambah mahal, BPJS tidak berlaku dengan sepatutnya.
Coba kita telusuri lebih dalam tentang BPJS ini. Jika ini benar-benar untuk kesejahteraan rakyat, kenapa diwajibkan membayar iyuran lagi? Tanah telah dirampas, lapangan kerja dipersempit, pajak dikenakan dengan tinggi – seharusnya tidak wajib ada pajak kepada rakyat jika hasil dari pajak perusahaan dan hasil pertambangan dikelola dengan sebaiknya – apakah ada uang untuk membayar BPJS ini? Tiap tahun diberi laporan kepada rakyat bahwa telah ada peruntukan yang khusus BPJS ini. Ini peruntukan ini jelas keluar dari kas negara. Sebab uang keluar maka diberi tahukan kepada rakyat. JIka telah ada peruntukan khusus kenapa harus diwajibkan bayar biaya BPJS lagi? Ini tidak lain karena uang masuk tidak pernah jelas dan sangat jelas akan masuk ke kantong pribadi mereka yang menjabat. Kenapa harus ada surat pengantar yang sangat merumitkan lagi? Orang sakit memerlukan penanganan yang baik bukan menjadi sebagai pekerja kantor yang perlu membawa surat-surat kelengkapan untuk berobat. Waktu yang digunakan untuk menyimak surat-surat administrasi telah membebankan pesakit yang seharusnya ditolong dengan segera.
Sejak penjajahan Belanda administrasi penjajahan berpusat di Jakarta. Penjajah Belanda tahu bahwa dengan membuat pusat di pulau jawa sangat menguntungkan dalam penjajahan. Ini karena pulau Jawa adalah daerah aman damai buat penjajah Belanda. Tidak ada perlawanan terhadap penjajah Belanda di Pulau Jawa. Jika ada pun beberapa pemberontakan itu bukan karena melawan penjajah Belanda, tetapi hanya perselisihan perebutan kekuasaan sesama sendiri dan satu pihak meminta bantuan penjajah Belanda, maka terjadilah pemberontakan dari pihak lainnya terhadap Belanda. Maka Belanda sangat mudah melumpuhkan pemberontakan itu sebab dibantu oleh bangsa Jawa sendiri. Sangat berbeda jauh dengan perlawanan terhadap penjajahan Belanda di luar pulau Jawa. Bangsa-bangsa di luar pulau Jawa adalah murni melawan penjajah Belanda seban mereka tau bagaimana menjadi Bangsa yang merdeka. Jawa tidak pernah merdeka sejak bangsa-bangsa Eropa menjajah Jawa yang bertukar tangan beberapa kali antara Inggris, Portugis dan Belanda. Jawa sangat aman untuk dijajah dan sangat aman menjadikan Jawa sebagai pusat penjajahan untuk mengusai dunia melayu dalam penjajahan.
Kita selama ini terima saja kebodohan yang mereka bikin di “pusat” sambungan penjajahan ini. Setelah kita memilih mereka seolah wakil dari rakyat memberikan kepercayaan kepada mereka yang pada hakikatnya hanya duduk manis di Jakarta dengan dali lebih dekat untuk mengikuti rapat rapat. Kita sebagai rakyat dipropagandakan untuk mempercayai mereka. Berapa kalikah mereka yang telah dipilih rakyat datang menjenguk dan berbincang dengan rakyat kecil di wilayah pemilihan mereka? Kebijakan apakah yang telah mereka buat sehingga rakyat sejahtera? Semuanya nol besar.
Simak dengan seksama hasil dari pernyataan yang dibuat oleh Prabowo pada 1 September 2025 menyangkut dengan peristiwa kebangkitan rakyat. Telah nyata sekali kesimpulan dari pernyataan tersebut hanya memihak kepada mereka yang di atas saja. Rakyat yang kecewa dan bangkit diancam dan ditakut-takuti dengan alasan pelanggaran hukum. Ini secara tersirat telah nampak jelas kekuasaan sejati di “indonesia” adalah bedil dan peluru. Ini secara jelas menyatakan bahwa “awas rakyat, kami akan gunakan kekerasan dengan peluru kepada kalian”. Rakyat dikhianati di siang bolong.
Sebenarnya dalam sebuah negara, jika menganggap sebagai sebuah negara, kewajiban pemerintah adalah mensejahterakan rakyat. Jika rakyat bersuara dan memberontak bukan karena kedengkian rakyat kepada pemerintah. Karena ada hal yang tidak menyenangkan rakyat. Oleh karena negara “indonesia” negara pemaksaan kepada rakyat, maka semua hal yang dilakukan adalah pemaksaan juga untuk rakyat terima.
Sadar dan berpikirlah wahai bangsa merdeka. Kita bukan bangsa “indonesia”. Bangsa kita sudah nenek moyang kita bentuk berabad-abad yang lalu. Bangsa Acheh, Melayu, Batak, Minang, Mandailing, Jambi, Sunda, Bali, Dayak, Papua, Flores, Maluku, Bugis dan banyak lagi bangkitlah. Sudah saatnya kita memutuskan mata rantai dengan Jakarta. Sudah saatnya kita keluar dari ketergantungan dengan mereka. Sudah jelas sekali bahwa mereka tidak mampu menjaga kita, sebab sesama mereka sendiri tidak mampu mereka jaga. Tidak mahu mendengar dan menghiraukan kehidupan kita karena kita dianggap sebagai anak jajajahan yang tidak pantas hidup makmur. Sudah mendekati satu abad kita dijajah oleh seberang, sudah saatnya kita bangkit dan lawan mereka. Bersatulah kita dan kita akan merdeka.
Tengku Musanna di Tiro