Kepada Dunia Internasional,
Media, organisasi lingkungan, dan pembela hak asasi manusia di seluruh dunia,
Saya menulis surat ini untuk menyampaikan kenyataan yang sedang terjadi di Aceh hari ini kenyataan yang sangat berbeda dari narasi resmi yang disampaikan oleh negara Indonesia.
Propaganda Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada masa pemerintahan Prabowo masih menggunakan pola lama. Di Aceh hari ini, kondisi yang digambarkan oleh negara tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Stabilitas dan pembangunan yang diklaim tidak mencerminkan penderitaan masyarakat, kerusakan lingkungan, dan hilangnya ruang hidup kami.
Rakyat Aceh hari ini membutuhkan kehadiran dunia internasional untuk melihat langsung kondisi masyarakatnya manusia, satwa, dan hutan yang menjadi sumber kehidupan kami sejak turun-temurun.
Hutan-hutan Aceh telah dirusak secara sistematis oleh negara Indonesia. Dunia internasional telah memberikan dana yang sangat besar kepada Indonesia dengan tujuan menjaga hutan dan keanekaragaman hayati. Namun kenyataannya, amanah tersebut telah dikhianati.
Hutan-hutan di Aceh dan Sumatra ditebang, dieksploitasi, dan dihancurkan atas nama pembangunan dan keamanan. Satwa kehilangan habitatnya, masyarakat adat kehilangan tanah leluhurnya, dan suara rakyat dibungkam melalui intimidasi serta kekuatan militer.
Dunia harus tahu: uang yang diberikan untuk perlindungan hutan tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Ini bukan kegagalan teknis. Ini adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan dunia dan terhadap masa depan bumi kita bersama.
Wahai dunia,
apa yang pantas diberikan kepada mereka yang menerima amanah global, namun menghancurkan hutan dan kehidupan demi kepentingan kekuasaan?
Hormat saya,
Ayah Meurantee
Reporter
Aceh
To the International Community,
Media organizations, environmental groups, and human rights defenders around the world,
I am writing this letter to convey the reality of what is happening in Aceh today a reality that is very different from the official narrative presented by the Indonesian state.
Military propaganda by the Indonesian National Armed Forces (TNI) under the Prabowo administration continues to rely on old patterns. In Aceh today, the situation described by the state does not reflect the reality on the ground. The claims of stability and development do not represent the suffering of the people, the destruction of the environment, and the loss of our living space.
The people of Aceh urgently need the presence of the international community to witness firsthand the condition of our society—our people, wildlife, and forests that have sustained our lives for generations.
Aceh’s forests have been systematically destroyed by the Indonesian state. The international community has provided significant financial support to Indonesia with the aim of protecting forests and biodiversity. However, this trust has been betrayed.
Forests across Aceh and Sumatra are being logged, exploited, and destroyed in the name of development and security. Wildlife is losing its habitat, Indigenous communities are losing their ancestral lands, and the voices of the people are being silenced through intimidation and military force.
The world must know: funds allocated for forest protection have not been used as intended.
This is not a technical failure it is a betrayal of global trust and of our shared responsibility to protect the planet.
Dear world,
what should be given to those who receive a global mandate, yet destroy forests and lives for the sake of power?
Respectfully,
Ayah Meurantee
Reporter
Aceh